

Sejak penyebaran besar-besaran dari Nunusaku, saat itulahrnserombongan besar orang dari persekutuan adat Patasiwa yang kemudian menjadirnPatasiwa Putih, mereka keluar dari Nunusaku ke arah timur melalui sungairnhaulalei. Sungai haulalei merupakan percabangan dari sungai sapalewa. Makarnseorang Upu Ama yang memimpin rombongan besar itu diberi nama gelar InamarnHaulaleipesia yang artinya keluar melewati sungai haulalei.rnDengan demikian rombongan besar tersebut merupakan rombongan InamarnHaulaleipesia.
Rombongan Inama Haulaleipesia mendiami pegunungan lumuterntepatnya di Gunung Koli-Kolia dengan sungai Sune Marakuti. Suatu ketikarnterjadilah peperangan dengan kelompok Patarima. Yang mana penguasa Patarimarnyakni Marihuni sejak keluar dari Nunusaku membawa lambang Patasiwa "Manumake"rnyaitu kasturi raja (manu) dan kuskus putih (makele pui'ro). Padarnakhirnya Marihuni dikalahkan dan lambang Patasiwa Manumake dipikul oleh seorangrnUpu yang dikemudian hari memegang kekuasaan sebagai pemimpin InamarnHaulaleipesia yakni Hallatu. Sejak itu orang-orang mulai turun ke arah timur danrnselatan Pulau Seram. Kelompok Inama Haulaleipesia yang merupakan Patasiwa Putihrnturun ke arah sungai Tone dan sungai Tana. Hingga pada akhirnya menempatirnwilayah menurut hena dan soa masing-masing. Setiap Upu Hena - Upu Hena dipimpinrnoleh Upu Latu sebagai pemimpin Inama. Saat itu Inama Haulaleipesia yang jugarndisebut sebagai Inama Amahai mempunyai daerah kekuasaan mulai dari Wae Uwe, WaernPaurita, sampai di Hatumete. Haulaleipesia yangrnartinya keluar melewati sungai haulalei. Dengan demikian rombonganrnbesar tersebut merupakan rombongan Inama Haulaleipesia.
Rombongan Inama Haulaleipesia mendiami pegunungan lumuterntepatnya di Gunung Koli-Kolia dengan sungai Sune Marakuti. Suatu ketikarnterjadilah peperangan dengan kelompok Patarima. Yang mana penguasa Patarimarnyakni Marihuni sejak keluar dari Nunusaku membawa lambang Patasiwa "Manumake"rnyaitu kasturi raja (manu) dan kuskus putih (makele pui'ro). Padarnakhirnya Marihuni dikalahkan dan lambang Patasiwa Manumake dipikul oleh seorangrnUpu yang dikemudian hari memegang kekuasaan sebagai pemimpin InamarnHaulaleipesia yakni Hallatu. Sejak itu orang-orang mulai turun ke arah timur danrnselatan Pulau Seram. Kelompok Inama Haulaleipesia yang merupakan Patasiwa Putihrnturun ke arah sungai Tone dan sungai Tana. Hingga pada akhirnya menempatirnwilayah menurut hena dan soa masing-masing. Setiap Upu Hena - Upu Hena dipimpinrnoleh Upu Latu sebagai pemimpin Inama. Saat itu Inama Haulaleipesia yang jugarndisebut sebagai Inama Amahai mempunyai daerah kekuasaan mulai dari Wae Uwe, WaernPaurita, sampai di Hatumete.

Asal Usul Nama Amahai
Amahai disebut dan ditulis juga Amahei. Tulisan ini berkaitan erat dengan sejarah yang tidak dapat dilepaspisahkan dari bahasa daerah dan artikulasi atau dasar ucapan yang berubah dari waktu ke waktu.
Menurut sejarahnya nama Amahai atau Amahei terdiri dari pengertian :
? A m a h a i
Secara etimologi kata Amahai terdiri dari dua suku kata, yaitu :
Ama artinya Bapak dan Mahai yang artinya hidup.
Sejarahnya: Sejak zaman diaspora atau imigrasi secara besar-besaran dari Nunusaku, serombongan besar manusia dari suku-suku Wemale rumpun patasiwa berpindah atau keluar meninggalkan Nunusaku mengambil jalan arah ke timur kemudian menyebar ke selatan, mereka terdiri dari beberapa Soa atau Hena yang masing-masing Soa atau Hena dipimpin oleh seorang Upu.
Kumpulan Soa atau Hena yang dipimpin oleh Upu mempunyai seorang pemimpin tertinggi yang disebut UPU LATU sebagai primes interparis atau orang yang pertama dan terutama atau orang yang dituakan.
Rombongan ini menyebar pada suatu daerah yang luas, mulai dari Uwe terus Paurita (Kepala Wai Ruata), di teluk Elpaputi sampai Hatumete di teluk Taluti. Maka maweng mengucap syukur pada Upu Lero dan Upu Lanite bahwa orang tua mereka yang adalah AMA atau Bapak masih tetap MAHAI atau Hidup.
? A m a h e i
Kata Amahei berasal dari kalimat “Ama Hei Nama Namakala” artinya “Bapak sejak dahulukala”
Sejarahnya: Dalam persidangan Amarale kecil (saniri kecil) dari Inam Halulepesia maka ucapan kalimat diatas disebutkan Upu Ama bagi orang tertua dan hidup sejak dari Nunusaku sampai menyebar dari Uwe, Paurita sampai Hatumete.
? A m a h e i
Ada sebagian orang berpendapat bahwa Amahei berasal dari kata Emhei yang artinya asin rasanya.
Sejarahnya: Pada zaman Gubernur Arnold de Vlaming van Oudshorn melancarkan Perang Hongi (1652) maka Belanda menyerang Kerajaan Iha yang tak mau takluk pada Belanda.
Pusat Kerajaan Iha berada di Gunung Ama Iha yang sukar untuk ditaklukan. Menurut nasihat Kapitan Sasabone dari Tuhaha, bahwa Ama Iha dapat ditaklukan bila di tembak dengan tulang babi.
Kapal-kapal perang Belanda mulai memasukkan tulang babi bersama mesin ke meriam mereka dan menembak Ama Iha, maka Ama Iha pun runtuhlah dan Kerajaan Iha pun takluklah.
Banyak yang berjatuhan sedang yang hidup melarikan diri ke Pulau Seram, satu diantaranya mereka yang melarikan diri bersama rombongannya ialah Kapitan Latukaisupi Urubaru, ia tinggal di Amahai pada sekitar daerah rawa-rawa Wai Rano.
Di waktu rombongan hendak memakan bekalnya, mereka mencari air untuk minum. Kapitan Urubaru menikam tombaknya, tetapi air itu payau (asin), Beliau menyebut “Ailo Emhei” yang artinya air itu asin. Kapitan Latukaisupi Urubaru kemudian menetap di Hausuiro daerah yang terletak sebelah timur Wai Rano. Nama Kapitan Latukaisupi Urubaru kemudian disebut orang Sopacua Makalau artinya orang yang selalu terlihat bersembahyang, karena Latukaisupi Urubaru adalah orang islam yang setia melaksanakan sholat lima waktunya. Kini kuburan dari Latukaisupi Urubaru masih berada di Wai Rano di tempat yang bernama Airanduno, dan kubur tersebut disebut kubur Sopacua sampai sekaran ini. Sedang air yang terpancar tadi disebut “Air Sopacua” yang berada di Hausuiro.

Secara geografis Amahai terletak dalam sebuah teluk yang
sangat indah, di peluk oleh dua buah tanjung yang mengajur ke laut,
masing-masing tanjung Kuako dan Umeputi. Secara administrasi, Negeri
Amahai memiliki batas-batas wilayah :
• Batas sebelah utara : Negeri Sehati, Kecamatan Amahai
• Batas sebelah selatan :Negeri Soahuku, Kecamatan
Amahai
•Batas sebelah timur :Petuanan Amahai, Kecamatan
Amahai
•Batas sebelah barat : Teluk Elpaputih
Letak geografis seperti ini, membuat desa/negeri Amahai
merupakan sebuah negeri yang terlindung dalam sebuah teluk yang permai dengan
di latar belakangi oleh sebuah gunung yang bernama Gunung Kerai. Amahai
merupakan pintu gerbang dan pelabuhan bagi kota masohi ibu kota kabupaten
daerah tingkat II Maluku tengah. Pada tanggal 6 januari1898 di kota Ambon terjadi suatu gempa yang
dasyat merusakan sebagian besar kota itu. Menilik tempat yang demikian maka
Amahai pada tahun 1898 telah di pilih oleh pemerintah Hindia Belanda untuk
menjadi Ibu Kota Residensi of molucas menggantikan kota Ambon yang rusak karena
gempa bumi pada 6 januari 1898.